Kisah Nyata: Korban penggandaan Uang di Kudus Dukun Kena Sumpah Sendiri



Kejadian ini terjadi di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Kudus. Tahun 2018, saya bersama 2 teman, Anto dan Subur yang juga sopir saya, berangkat ke Kudus. Tujuan kami satu: mencari jalan keluar dari lilitan utang.


Sesampainya di sana, kami langsung menuju rumah OT, singkatan dari Orang Tua, sebutan untuk dukun di kampung itu. Kami disambut meriah. Ada welcome tea, jajanan, pokoknya seperti tamu agung.


OT langsung tanya, “Apa tujuan kalian kemari?”

Saya jawab jujur, “Ada kasus, Pak. Kelilit utang.”

Anto nyeletuk dari samping, “Dibantu ya Pak, kami dari jauh.”


OT manggut-manggut. “Oke. Tapi sudah siap semua sesaji dan uang maharnya?”

“Siap. Berapa, Pak?” tanya saya.

“Ada 20 juta.”

“Boleh,” jawab OT. “Tapi ingat ya. Kita lakukan ritual plus sesajian. Sudah siap?”

Subur yang dari tadi diam langsung sahut, “Oke Pak.”


Kami bertiga disuruh mandi dulu dan istirahat. Kata OT, “Habis jam 12 malam nanti kalian mandi lagi dan siap-siap. Ada acara ritual pembukaan rejeki.”


Singkat cerita, OT mulai dengan segala cara untuk meyakinkan kami. Puncak acaranya adalah ritual sumpah. Kami dan OT terlibat sumpah di bawah telapak kaki. Sumpahnya berat: apabila penggandaan uang ini gagal atau zonk, OT siap jadi tumbal.


Kami sepakat. Lepas jam 21.00 malam, kami diajak berdoa penutup dan ikrar sumpah seutas tali. Saya yang pegang tali itu. OT mengucapkan sumpahnya dengan lantang: “Saya berjanji akan menerima segala macam penyakit apapun apabila saya berbohong.”


Ritual selesai. Kami diberi satu kardus dibungkus kain putih. Pesan terakhir OT sebelum kami pulang ke Jakarta: “Jangan dibuka selama 7 hari.”


7 hari berlalu. Deg-degan, saya buka kardus itu. Isinya? Zonk. Hanya tumpukan kertas koran dipotong seukuran uang. Kami ditipu.


Tapi cerita tidak berhenti di situ.


3 bulan kemudian, istri muda OT telepon saya. Umurnya sekitar 23 tahun, sedangkan OT 40-an. Sambil nangis dia minta tali yang dulu dipakai sumpah untuk dikembalikan.


“Mas, tolong balikin talinya. Semenjak mas pulang ke Jakarta, bapak tiba-tiba kejang-kejang dan tidak sadar diri,” katanya.


Waktu berjalan. Kondisi OT makin parah. Semua tanah dan rumah sudah dijual untuk berobat, tapi tidak ada hasil. Sampai istrinya telepon lagi sambil menangis, mohon tali itu dikembalikan.


Akhirnya saya kembalikan. Begitu tali itu sampai di tangan istrinya, selang 3 hari, OT meninggal dunia. Meninggalkan istri jadi janda muda.


*Pesan dari 7 Jalur Sutra:* Tidak ada rezeki yang datang tanpa keringat. Sumpah dalam doa itu bahaya, Guys. Jangan pernah lakuin. Karma itu nyata.

Salam Selalu Sehat >


#7jalursutra

Comments

Popular posts from this blog

Misteri Gunung Merapi

Jangan Lakukan ini di Alas Purwo, kalo tidak mau disesatkanr

Misteri Pasar Setan Gunung Merapi : Gamelan Gaib Malam Jumat Kliwon Yang Menyesatkan Pendaki