Misteri Pasar Setan Gunung Merapi : Gamelan Gaib Malam Jumat Kliwon Yang Menyesatkan Pendaki

Jam 01.17 dini hari. Kabut setebal tembok menyelimuti jalur antara Watu Gajah dan Pasar Bubrah. Senter 7 pendaki dari Jogja tiba-tiba meredup satu per satu. Di tengah sunyi yang menusuk tulang, terdengar jelas alunan gamelan Jawa. Laras slendro, mengalun pelan tapi menghipnotis. Anehnya, peta dan GPS sama-sama menunjukkan tidak ada perkampungan dalam radius 4 kilometer. Itulah sapaan pertama dari Pasar Setan Gunung Merapi. Pasar Setan bukan sekadar cerita horor di pos pendakian. Bagi warga lereng Merapi, terutama di Kinahrejo dan Deles, ini adalah peringatan turun-temurun dari Mbah Maridjan. Sebuah pasar gaib yang hanya buka pada malam-malam tertentu. Dan barang siapa yang nekat bertransaksi, nyawanya taruhannya. H2: Di Mana Lokasi Tepat Pasar Setan Merapi Menurut Juru Kunci? Lokasi Pasar Setan tidak ditandai di peta manapun. Namun para juru kunci dan relawan SAR Merapi sepakat, titik kemunculannya paling sering di tiga segitiga mistis. Pertama, area sekitar Watu Gajah di ketinggian 2100 mdpl. Batu besar berbentuk gajah ini dipercaya sebagai gapura. Kedua, sepanjang jalur landai sebelum Pos Pasar Bubrah. Namanya saja sudah Pasar Bubrah, yang artinya pasar yang rusak atau kacau. Ketiga, di lembah tersembunyi antara puncak Garuda dan Kawah Mati. Ciri fisik lokasinya: tanah terasa lebih empuk dari jalur biasa, seperti karpet. Banyak pohon tidak bisa tumbuh lurus, melainkan bengkok-bengkok aneh. Dan yang paling utama: hawa dinginnya berbeda. Bukan dingin gunung biasa, tapi dingin yang menusuk sampai ke sumsum. H2: 5 Tanda Kamu Sudah Terjebak di Tengah Pasar Setan Bagaimana membedakan antara halusinasi karena lelah dengan benar-benar masuk Pasar Setan? Para pendaki senior merumuskan 5 tanda mutlak yang tidak bisa dibantah. 1. Bau Kemenyan dan Bunga Kantil Menyengat Tiba-tiba hidungmu mencium aroma menyan keraton bercampur bunga kantil. Padahal tidak ada ritual apapun. Bau ini datang bersama angin dingin dari arah lembah.* 2. Suara Riuh Pasar di Tengah Hutan Terdengar jelas suara orang tawar-menawar, gelak tawa, suara anak kecil, dan denting uang logam. Semua terdengar seperti berjarak 5 meter dari Anda, tapi sentermu tidak menangkap siapa-siapa. 3. Alunan Gamelan Versi Laras Slendro Ini tanda paling khas. Gending yang dimainkan selalu Udan Mas atau Ketawang Puspawarna. Nadanya sumbang sedikit, tidak bulat seperti gamelan di keraton. Seolah dimainkan oleh penabuh yang tangannya kaku. 4. Jam Tangan dan Kompas Mati Total Semua alat penunjuk waktu digital maupun analog akan berhenti di angka 12. Kompas berputar gila tanpa arah. HP mati total meski baterai masih 80%. 5. Muncul Kerlap-kerlip Lampu Seperti Obor Dari kejauhan terlihat kerlap-kerlip lampu teplok atau obor berbaris, seperti ada pawai. Jika kamu dekati, lampu itu akan menghilang dan muncul di belakangmu. H2: Pantangan Keras: Jangan Pernah Jual Beli dengan Lelembut Ini hukum besi di Merapi. Aturan nomor satu yang tidak bisa ditawar. Jika kamu mendengar suara "Sampun dugi, Monggo mampir, Mas. Niki wonten wedang jahe anget," jangan pernah menjawab. Jangan pernah menawar. Jangan pernah mengambil apapun yang ditawarkan. Tahun 2014, seorang pendaki dari Solo mengaku ditawari wedang jahe oleh seorang nenek di jalur Pasar Bubrah. Karena kedinginan, ia iseng menjawab "Pinten, Mbah?". Ia tidak melihat siapa-siapa, tapi tiba-tiba tangannya terasa berat. Sesampainya di basecamp New Selo, ia muntah-muntah mengeluarkan uang koin kuno berlumut dan 3 helai rambut panjang. Mbah Maridjan pernah berpesan: "Lelembut pasar setan itu balane Kanjeng Ratu Kidul. Yen kowe tuku, artine kowe utang nyowo. Bakal ditagih ning alam ndonyo utawa alam kono. H2: Kisah Nyata KKN UGM 1998: Lenyap 3 Hari di Pasar Setan Ini kisah paling melegenda dan dicatat dalam buku harian relawan. Bulan Agustus 1998, 12 mahasiswa KKN UGM melakukan pendakian survei ke Puncak Garuda. Mereka berangkat malam Jumat Kliwon. Menurut kesaksian 1 orang yang selamat bernama sebut saja "Adi", sekitar pukul 2 pagi di dekat Watu Gajah, mereka mendengar suara gamelan dan pasar. Karena penasaran, ketua rombongan mengajak mendekat. "Adi" yang saat itu sakit perut memilih buang air besar agak jauh dari rombongan. Saat kembali, 11 temannya hilang. Tinggal tas carrier dan senter yang masih menyala tergeletak di tanah. "Adi" berteriak sampai suaranya habis. Ia lari turun sendirian ke New Selo dalam keadaan linglung. Tim SAR dan warga melakukan penyisiran 3 hari 3 malam. Hasilnya nihil. Di hari keempat, ke-11 mahasiswa itu ditemukan di sebuah cerukan di dekat Kali Kuning. Kondisi mereka aneh: tertidur pulas melingkar, tanpa luka sedikitpun, tapi rambut dan kuku mereka memanjang drastis seperti sudah sebulan tidak dipotong. Saat ditanya, mereka semua mengaku baru saja selesai makan di sebuah pasar ramai dan menonton wayang kulit semalam suntuk. Bagi mereka, baru lewat 1 malam. H2: Doa Selamat dari Mbah Maridjan Saat Melewati Jalur Angker* Untuk menghindari Pasar Setan, ada etika dan doa yang selalu diajarkan Mbah Maridjan kepada setiap pendaki. Pertama, uluk salam. Saat melewati Watu Gajah atau Pasar Bubrah, ucapkan dalam hati: "Nuwun sewu Mbah, kulo numpang langkung. Nyuwun slamet, mboten ngganggu." Kedua, jangan sombong dan mengumpat. Merapi paling tidak suka dengan pendaki yang takabur. Jangan bilang "Gunung gini doang mah gampang". Ketiga, baca doa ini 3 kali jika mendengar gamelan: "Bismillahirrahmanirrahim. Sepuh-sepuh ingkang baurekso ing Gunung Merapi, kulo nyuwun ngapuro lan nyuwun slamet. Kulo namung langkung." Gunung Merapi bukan sekadar tumpukan batu dan pasir. Ia hidup. Ia punya penjaga. Pasar Setan adalah salah satu pengingat bahwa ada dunia lain yang berdampingan dengan kita. Menghormati, bukan menantang, adalah kunci selamat. Pernah punya pengalaman mistis di Merapi? Atau pernah dengar suara gamelan tengah malam? Ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu kisahmu bisa jadi peringatan buat pendaki lain.

Comments

Popular posts from this blog

Misteri Gunung Merapi

Misteri Karang Bolong