Kisah Nyata :Ritual penggandaan Uang di hotel Serang
Sore itu, Agus dan Noya datang ke rumah. Tujuannya sudah bisa kutebak: dunia `huka-huka`. Dunia mistik. Dunia tak kasat mata yang selalu mereka kejar.
"Ayo jalan bro," kata Agus begitu mobilnya berhenti di depan.
Aku sudah siap dari tadi. Tanpa banyak tanya, aku masuk.
Mobil melaju ke arah barat, menuju Serang, Banten. Di dalam mobil, mereka berbisik-bisik.
"Kali ini kita harus berhasil," bisik Agus.
"Orangnya sakti banget," timpal Noya sambil menunjukkan setumpuk uang pecahan 50.000.
Aku kaget. Dalam hati bertanya, "Kok mau?" Tapi aku diam. Tidak mau menyinggung niat Agus.
Tiba di Serang
Lepas Maghrib kami sampai di ujung tol Serang. Perut lapar, kami putuskan makan dan ngopi dulu. Setelah itu, kami cari penginapan. Dapat hotel dekat pantai, view-nya lumayan.
Di kamar, sambil rebahan dan menghisap beberapa batang rokok, `orang pinter` yang dimaksud Agus akhirnya datang. Kami bersalaman. Gestur tubuhnya sombong. Firasatku langsung tidak enak. Dari sorot matanya, aku yakin dia tidak mampu menggandakan uang.
Sepertinya dia sadar aku tidak respect. Akhirnya, aku disuruh keluar selama ritual berlangsung.
Ritual Kain Hitam dan Bata Merah
Noya yang punya hajat. Agus cuma mediator. Mereka duduk bersila di lantai. Tanpa sesaji. Tanpa kembang. Tanpa dupa.
Sang `dukun` mulai bekerja. Noya dan Agus disuruh beli kain hitam beberapa meter, lalu disobek-sobek.
Aku sempat usul, "Uangnya biar saya saja yang pegang di luar hotel.
Sang dukun langsung menolak. Alasannya banyak: takut gagal, harus di dalam, macam-macam.
Akhirnya, mata Noya dan Agus ditutup kain hitam. Ritual dimulai. Mantra dikumandangkan, suaranya tidak jelas. Aku menguping dari balik pintu. Suara di dalam kamar makin lama makin gaduh.
Tiba-tiba sang dukun menyuruhku beli rokok dan air minum. Katanya haus. Aku kira ritual sudah selesai.
Pas aku balik, suasana di depan pintu hotel sepi. Aneh. Sandalnya masih ada di luar. Tapi orangnya hilang.
Dukun itu kabur. Tanpa sandal. Meninggalkan sendalnya sebagai alibi, seolah-olah dia masih di dalam.
Tengah malam, Noya dan Agus keluar kamar dengan wajah kelelahan.
"Mana orangnya? Boleh belum dibuka kotaknya?" tanya mereka polos.
Di tangan mereka, dua kardus dibalut kain hitam.
Begitu dibuka... isinya bata merah.
Setumpuk uang 50.000 itu sudah raib. Berpindah ke tangan sang dukun.
Alangkah kecewanya Noya dan Agus. Hanya bata merah yang mereka pegang.
Modusnya klasik: kain hitam, suara gaduh, kardus tukar. Ini namanya *Kasus 378*. Penipuan.
Jadi, jangan pernah percaya cerita orang sakti yang bisa gandakan uang. Kalau memang bisa, kenapa dia tidak gandakan uangnya sendiri sampai jadi konglomerat?
Logika > Mistik. Salam waras.
#7jalursutra

Comments
Post a Comment