Misteri Karang Bolong





 Misteri Karang Bolong: Selendang Sutra Ijo

 dan Janji Jam 19.00 yang Tak Bisa Ingkar


Oleh: Komandan 7 Jalur Sutra


Pantai Selatan tidak pernah ingkar janji. Apalagi jika janji itu diucap di hadapan bunga tujuh rupa, tepat di pusar Karang Bolong, saat Maghrib menyisih senja.


Tujuh hari lalu, motor baru itu menjadi saksi. Yanto, kawan karib dari tanah Jateng, menepuk joknya. "Mudik, Bro," katanya. Dua jam kemudian, Kalimalang menjadi garis awal. Jakarta Tangerang kami tinggalkan, menyusur malam menuju jantung Jawa.


Desa Yanto menyambut dengan hening. Enam jam pejam mata terasa sekejap. Pukul 14.00, roda kami berputar membelah desa, hingga akhirnya berhenti di satu nama: Karang Bolong.


1. Bisik Ombak dan Makam di Atas Tebing


Anginnya dingin, ombaknya tinggi, nadanya mendesau seperti ratusan bisik. Di atas, sedikit mendaki, ada yang dijaga. Makam Ibu Ratu, kata Yanto. 

Kebetulan ada rombongan dari Lampung. Sesaji bertumpuk. Juru kunci, seorang Ibu, menuntun doa. Ritual usai, sang Ibu menoleh. "Dari mana, Dek?" 

"Jakarta." 

"Mau ziarah juga?" 

Hati kecil mengiyakan. "Syaratnya apa?" 

"Tergantung kantong. Yang wajib ada. Besok Maghrib, jam 18.00, Ibu siapkan." 

Yanto menimpali, "Sekalian, Bro. Biar lancar." 

Uang kutitipkan untuk sesaji. Janji pun terikat.


*2. Malam di Karang Bolong dan Pantangan yang Mengikat* 

Jam 17.30, kami tiba. Ibu Juru Kunci datang membawa amanah: bunga tujuh rupa, dupa, dan syarat lain yang tak tertulis. 

Ritual tiga puluh menit terasa melar jadi berjam. Puncaknya, sang Ibu berpesan, "Nginep di sini malam ini." 

Kami bergadang hingga Subuh. Ditemani debur ombak dan wangi kembang yang belum boleh tersentuh air. Sebab batin sudah berjanji: "Besok malam, pukul 19.00, aku harus mandi dengan kembang ini di rumah."


Kami pamit pagi buta. Perut lapar, kepala berat, tapi motor harus melaju ke Jakarta.


*3. Waktu yang Melipat di Jalur Kalimalang* 

Janji adalah hutang. Hutang pada yang tak kasat mata harus dibayar tepat. 

Niat: sampai rumah pukul 19.00. Realita: mata lima watt, pos teduh di tengah hutan, dan kami baru bangun pukul 14.30. 

Kerawang menyambut dengan razia. Yanto tak punya SIM. Aku yang bawa. Jam di tangan: 16.45. Kalimalang jam segitu adalah neraka macan besi. Mustahil tembus Slipi sebelum Maghrib. 

Kubisik ke Yanto, "Tutup matamu. Apapun yang terjadi, jangan buka." 


Lalu terjadilah yang di luar nalar. 

Pukul 18.35, kami sudah di Slipi. Motor serasa heli, melayang di atas aspal. Tidak ada macet, tidak ada lampu merah yang terasa lama. Hanya desing angin dan getar aneh di setang. 

Yanto mencengkeram pinggangku erat. Matanya terpejam. 


*Pukul 19.00 tepat. Tidak kurang sedetik.* 

Roda motor berhenti di depan pagar rumah. 

Aku buka helm. Yanto buka mata. Wajahnya pucat. 

"Bro," bisiknya gemetar, "dari tadi kita kayak... naik selendang. Selendang sutra warna ijo. Terbang." 


Kembang tujuh rupa masih utuh di tas. Jam dinding berdentang tujuh kali. Aku melangkah ke kamar mandi. Janji telah lunas.


*Epilog: Pantai Selatan Tidak Pernah Telat Nagih Janji* 

Karang Bolong menyimpan banyak pintu. Salah satunya adalah pintu waktu. 

Jika kau sudah ritual, sudah semedi, sudah berniat mandi kembang jam 19.00, maka alam akan memastikan kau sampai. Dengan cara apapun. 

Bahkan jika itu berarti melipat jalan, menerbangkan motor, dan meminjamkanmu selendang sutra ijo milik Sang Ratu. 


Hati-hati dengan jam. Hati-hati dengan janji di tanah Pantai Selatan. 

Karena di sana, telat sedetik bisa berarti kau tidak akan pernah pulang. 


*Salam dari 7 Jalur Sutra.* 

*Pernahkah kalian diantar pulang oleh sesuatu yang tak kasat mata? Cerita di kolom komentar.*





Comments

Popular posts from this blog

Misteri Gunung Merapi

Misteri Pasar Setan Gunung Merapi : Gamelan Gaib Malam Jumat Kliwon Yang Menyesatkan Pendaki