Teman tak kasat Mata
Pukul 22.13, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi. Lapar.
Aku berjalan ke arah barat, cuma 350 meter dari penginapan.Tiba-tiba bulu kuduk berdiri. Bukan karena takut, tapi karena di kejauhan ada cahaya kuning remang-remang.
Pasar malam? Jam segini?
Aku dekati. Ramai. Tapi aneh. Jalanan menuju ke sana sepi total. Gerbangnya ada, tapi tidak ada satu pun motor parkir. Ah, peduli setan. Aku lapar.
Mataku langsung tertuju ke satu lapak. Penjualnya cewek, muda, cantik.
"Malam, Neng," sapaku.
Malam juga, Pak," jawabnya ramah.
Jual apa?
Ada nasi goreng, ikan sepat, tempe orek, toge, bayam, sayur asem. Bapak mau makan?
Boleh. Tapi telur dadar sama ayam goreng aja ya, Neng.
"Duduk, Pak. Mau kopi sekalian?"
Boleh.
"Segelas atau dua?"
Aku terdiam. Aku datang sendiri. Kenapa dia tanya 'dua'?
Makanan datang. Baru beberapa suap, si Neng nanya lagi sambil senyum.
Temannya kok nggak makan, Pak?
Teman yang mana, Neng?" tanyaku, dingin.
Dia menunjuk ke kursi kosong di sampingku. "Itu. Yang dari tadi duduk di samping Bapak.
Darahku berdesir. Aku sendirian dari penginapan
Jantung mulai deg-degan, tapi kupaksa habiskan makanan. Pura-pura tidak dengar. Si Neng malah ngajak ngobrol lagi.
Bapak dari mana?
Jakarta.!!!!
Mau ke mana malem-malem?
Main ke rumah teman," jawabku asal.
Obrolan ngalor-ngidul. Setelah bayar, aku langsung balik kanan. Cepat.
Pagi harinya, matahari membangunkanku. Perut lapar lagi. Aku putuskan sarapan di warung si Neng lagi.
Aku jalan ke lokasi semalam. Jauh.
Sampai di sana... tidak ada apa-apa. Hanya tanah lapang kosong dan satu pohon beringin besar.
Aku tanya orang yang lewat, "Pak, warung nasi yang di sini ke mana ya?
Bapak itu pucat. Dia cuma jawab satu kalimat yang bikin bulu kudukku berdiri sampai sekarang.
Kalian tebak apa jawaban bapak itu? Tulis di koment.

Comments
Post a Comment